Copyright Tenda Intanali ©2022 All Right Reserved

Pernikahan adalah momen yang sangat istimewa dalam kehidupan setiap pasangan. Setiap daerah di Indonesia memiliki keunikan dan keindahan pernikahan adatnya masing-masing. Salah satu pernikahan adat yang terkenal di Indonesia adalah pernikahan adat Sunda. Dalam pernikahan adat Sunda, dekorasi, proses, dan makna memiliki nilai-nilai budaya yang kaya. Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut tentang pernikahan adat Sunda.

Dalam pernikahan adat Sunda, dekorasi memiliki peran yang sangat penting. Dekorasi biasanya didominasi oleh warna-warna yang cerah dan penuh semangat, seperti merah, kuning, dan hijau. Dekorasi tenda menggunakan kain-kain tradisional dengan motif khas Sunda seperti motif tumpal, parang, atau wayang. Bunga-bunga segar juga sering digunakan sebagai hiasan untuk memberikan kesan segar dan indah. Selain itu, aksesori tradisional seperti payung dan lampu-lampu hias juga sering digunakan untuk mempercantik dekorasi pernikahan adat Sunda.
Pernikahan adat Sunda melibatkan serangkaian prosesi yang sarat dengan makna budaya. Berikut merupakan proses pernikahan Adat Sunda
Dalam pernikahan adat Sunda, Neundeun Omong adalah tahap pertama dari sejumlah prosesi yang harus dilakukan. Meskipun tidak dilakukan sebagai upacara resmi, karena dilakukan lebih dalam lingkungan keluarga yang akrab daripada di tempat yang formal atau resmi, tahap ini sangat penting untuk membuka rangkaian upacara pernikahan.
Neundeun Omong adalah kata yang berarti “menyimpan omongan” atau “menyimpan ucapan”, dan ucapan ini adalah ucapan yang menyatukan mempelai wanita dan pria dalam pernikahan.
Proses Ini dilakukan karena pada zaman dulu, sering terjadi perjodohan dengan kondisi orang tua memaksakan pernikahan. Tidak sedikit dari kedua mempelai yang tidak tahu satu sama lain. Namun, seiring berjalannya waktu, prosesi ini sekarang sering dilewatkan karena calon pengantin biasanya sudah mengenal satu sama lain dan telah memutuskan untuk serius menikah.
Narosan sama juga artinya dengan lamaran atau sirih pinang yang bertujuan bahwa wanita yang dipinangnya tidak dapat menerima pinangan dari orang lain karena dia sudah terikat dengan seperangkat pakaian wanita sebagai simbol.
Narosan sama juga artinya dengan lamaran atau sirih pinang yang bertujuan bahwa wanita yang dipinangnya tidak dapat menerima pinangan dari orang lain karena dia sudah terikat dengan seperangkat pakaian wanita sebagai simbol.
Pada proses ini, ibu menggendong calon pengantin wanita keluar dari kamar secara simbolis. Menggendong yang dimaksud di sini tentu bukan berarti menggendong secara harfiah. Pengantin wanita biasanya dibungkus atau diais dengan kain putih, yang menunjukkan kesucian. Proses ini menggambarkan lepasnya tanggung jawab orang tua dari anak

Ngaras merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh calon pengantin sebagai bentuk berbakti kepada orang tua
Ngeurik merupakan proses merias wajah dengan mengerik bulu-bulu daerah wajah agar saat dirias, hasilnya dapat menjadi bagus
Calon diberikan kesempatan kepada kedua orang tua untuk memohon restu mereka yang disaksikan keluarga, kerabat, dan undangan. Setelah itu, kedua orang tua memberikan nasihat kepada calon mempelai melalui benda-benda yang ada pada alat atau alat ngeuyeuk seureuh.
Upacara Mapag Penganten dilakukan dengan pengantin laki-laki dan rombongan tiba di lokasi pernikahan. Pengantin laki-laki datang bersama orang tua dan keluarganya. Keluarga pengantin perempuan yang akan menyambut rombongan harus menunggu sampai mereka siap.
Setelah semua selesai, penetua adat, Ki Lengser, memberi tanda kepada para panayagan (pemain musik), pager ayu (penari), punggawa (prajurit penjaga), dan keluarga pengantin perempuan untuk menyambut pengantin laki-laki.
Setelah percakapan antara Ki Lengser dan ketua rombongan, para punggawa diminta untuk mengawal pengantin laki-laki dan rombongan. Para pager ayu, yang terdiri dari enam orang, kemudian menyambut kedatangan rombongan dengan tarian dan tabur bunga.
Upacara seserahan dilakukan ketika calon pengantin pria datang, maka akan dikalungan oleh ibu pengantin wanita yang menggunakan bahan dari bunga melati.
Sementara, orang tua calon pengantin pria menyerahkan putranya kepada orang tua calon pengantin wanita, mereka juga membawa barang-barang pengantin wanita, termasuk pakaian wanita dari kepala hingga kaki. Ini menunjukkan bahwa pihak pria bertanggung jawab atas keluarga wanita.
Akad nikah dilakukan dengan mempersilahkan kedua orang tua duduk sebagai saksi dari kedua belak pihak. Kedua pengantin duduk bersebelahan dengan posisi laki-laki di sebelah kanan dan kedua calon pengantin dikerungi tudung panjang berwarna putih. Hal ini melambangkan untuk penyatuan dua insan yang murni.
sawer berasal dari kata “awer”, yang artinya “air jatuh menciprat”. Upacara sawer adalah upacara untuk memberi nasihat pengantin tentang pernikahan dengan menempatkan posisi di antara halaman dan rumah sebagai tempat jatuhnya air.
Selama perayaan, pasangan pengantin ditempatkan di kursi yang telah disediakan, pria di sebelah kanan dan wanita di sebelah kiri. Sanak saudara mendampingi keduanya.
Selama perayaan, pasangan pengantin ditempatkan di kursi yang telah disediakan, pria di sebelah kanan dan wanita di sebelah kiri. Sanak saudara mendampingi keduanya. Setelah itu, upacara nyawer dimulai oleh wakil orang tua pengantin wanita, yang menyanyikan lagu sawer yang berisi nasihat dan doa.
Upacara ini diselingi dengan menaburkan beras putih dan kunyit yang dilarutkan ke dalam air, kemudian digunakan untuk mengaduk beras putih hingga menjadi kuning.
Upacara ini juga mencakup uang logam, payung, permen, sirih yang digulung menjadi cerutu dengan gambir, kapur sirih, pinang, dan tembakau.
Kedua pengantin tidak boleh segan-segan memberikan bantuan dan harta kekayaan kepada sanak saudara dan orang lain, seperti yang ditunjukkan oleh bahan sawer yang tersebar luas.
Upacara sungkem merupakan permintaan maaf yang dilakukan oleh kedua pengantin terhadap orang tua dan memberikan tanda sebagai bakti kepada kedua orang tua dengan duduk jongkok dan menundukkan kedua kepala.
Upacara nincak endog adalah momen ketika kedua mempelai saling mengucapkan janji suci dalam bahasa Sunda. Janji ini mencakup komitmen untuk saling mencintai, menghormati, dan menjaga satu sama lain sepanjang kehidupan pernikahan. Prosesi ini memiliki makna untuk memperkuat ikatan cinta dan kesetiaan di antara kedua mempelai.
Nincak Endog memiliki makna yang dalam dalam pernikahan adat Sunda. Prosesi ini menjadi momen penting di mana kedua mempelai secara terbuka dan dengan kesadaran penuh menyatakan janji suci mereka untuk hidup bersama dalam ikatan pernikahan. Janji tersebut menjadi dasar yang kuat dalam membangun hubungan yang harmonis dan langgeng.
Setelah prosesi pernikahan adat selesai, biasanya dilanjutkan dengan resepsi pernikahan di mana keluarga dan tamu diundang untuk merayakan dan memberikan ucapan selamat kepada pasangan pengantin. Resepsi pernikahan merupakan momen kebahagiaan dan kesyukuran yang melibatkan
Pernikahan adat Sunda memiliki makna yang dalam dan memiliki nilai-nilai budaya yang kuat. Pernikahan adat Sunda melambangkan persatuan tidak hanya antara dua individu, tetapi juga persatuan antara dua keluarga.
Pernikahan ini juga melibatkan keterlibatan banyak anggota keluarga dan komunitas sebagai bentuk dukungan dan kerjasama. Selain itu, pernikahan adat Sunda juga mengajarkan nilai-nilai seperti kekeluargaan, gotong-royong, dan rasa saling menghormati.
Dalam menggelar pernikahan adat Sunda, penting untuk menjaga keaslian dan keautentikan budaya yang ada. Memilih dekorasi yang sesuai dengan nuansa adat dan memahami prosesi serta makna di baliknya adalah langkah penting dalam menjalankan pernikahan adat Sunda yang bermakna.
Dalam kesimpulan, pernikahan adat Sunda merupakan perayaan yang sarat dengan keindahan budaya dan tradisi. Dekorasi yang indah.
Jl. Pusdiklat Depnaker No.62, RT.18/RW.1, Pinang Ranti, Kec. Makasar, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13560
Copyright Tenda Intanali ©2022 All Right Reserved
Jl. Pusdiklat Depnaker No.62, RT.18/RW.1, Pinang Ranti, Kec. Makasar, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13560
Copyright Tenda Intanali ©2022 All Right Reserved